Jai Gurudev!
Teman-teman, saya ingin ikutan sharing tentang perjalanan ke Kashmir dan Leh kemarin. Saya fokuskan ceritanya ketika di Leh saja, ya. Karena Didit dan dr. Made telah menceritakan bagian
awal perjalanan mulai dari Kashmir sampai ke Leh. Karena ini pengalaman saya pribadi, saya awali dengan cerita bagaimana mulanya sampai saya bisa ikut dalam perjalanan tersebut.
Begini ceritanya ...
Suatu hari di Surabaya,
Saya akan pergi ke Khasmir dan Leh. Ada yang mau ikut ? tanya Guruji ketika kami sedang berbincang-bincang di Lobby Hotel Shantika Surabaya pada bulan Februari yang lalu. Ups, saya langsung menjawab ,"Saya ikut, Pak!". Berapa biayanya, apakah saya bisa mendapatkan cuti atau tidak, tidak saya pikirkan lagi. Leh, adalah impian saya sejak 17 tahun yang lalu. Saat itu Guruji baru pulang dari perjalanannya ke India untuk penyembuhan penyakit Leukimia yang Beliau derita. Ada rasa syukur yang luar biasa saat bertemu kembali dengan Beliau di Ashram, Sunter. Dan muncul keinginan untuk bisa pergi ke tempat dimana Beliau disembuhkan. Namun dengan kondisi saya saat itu, rasanya tidak terbayangkan kalau saya dapat pergi ke sana. Sehingga keinginan tersebut hanya saya simpan dalam-dalam.
Akhirnya,
Atas berkah dari Guruji, saya dapat mengikuti perjalanan ke Khasmir dan Leh, pada tanggal 11 – 22 Mei 2008yang lalu. Senang, syukur, dan haru bercampur aduk dalam diri. Sebelum berangkat, kubaca-baca kembali buku Soul Quest, khususnya dibagian yang menceritakan perjalanan Guruji ke Leh. Biara Hemis atau Hemis Monastery , menjadi sebuah tempat yang saya nantikan dalam perjalanan tersebut. Entah kenapa, perasaan saya seperti orang yang rindu, ingin pulang ke kampung halaman yang telah ditinggalkannya bertahun-tahun.
Akhirnya hari itu tiba juga. Pagi-pagi sekali kami sudah bersiap-siap pergi ke Hemis Monastery. Rasa senang dan ingin cepat-cepat sampai begitu memenuhi hati . Setelah melalui perjalanan yang berliku-liku, berbatu –batu , namun dengan pemandangan alam yang sangat indah, tiballah kami di Monastery tersebut. Turun dari mobil, saya langsung bersujud syukur dengan menyentuh tanah parkiran dan meletakkannya di dahi saya. Lalu secara perlahan-lahan, bersama Guruji dan rombongan, kami berjalan menuju pintu gerbang dimana 17 tahun yang lalu , Guruji pernah disambut oleh seorang Lama Misterius. Di depan gerbang tersebut, kami berhenti sejenak ……
Mata saya langsung tertuju pada sebuah bangunan tua yang terletak dihadapan saya. Saya pandangi terus bangunan tersebut. Saya tak kuasa mengalihkan perhatian ke tempat lain. Bangunan tua tersebut seolah menarik-narik saya dan memanggil-manggil saya untuk mendekat dan mendekat. Saya tidak tahan lagi, segera berjalan menuju ke sana, mendekatinya.
Begitu dekat, ada rasa haru yang luar biasa , muncul begitu saja. Tiba-tiba saya berteriak memanggil dr. Made -teman seperjalanan sekaligus sahabat saya sejak kecil-, untuk mengambil gambar saya dengan bangunan tersebut sebagai latarbelakangnya. Saya katakan, kenapa kamu foto-foto pemandangan saja? Foto saya dengan latar belakang bangunan ini! dan dia mengikuti. Saya sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan saya bersikeras seperti itu. Ternyata, di dalam
Monastery, Guruji mengatakan bahwa bangunan tua di luar gerbang tadi adalah tempat dimana dulu Beliau pernah tinggal…..
Allahuakbar! Oh, Tuhan Maha Besar! Saya tidak kuasa lagi menahan emosi untuk tidak menangis mendengar penuturan Guruji. Terbayang oleh saya bagaimana kondisi Guruji pada saat itu. Dalam keadaan sakit parah, lemah dan tidak berdaya. (Ingatan saya kembali kepada 17 tahun yang silam . Walau tidak sempat bertemu sebelum Beliau berangkat ke India, saya tau Beliau menderita sakit yang sangat parah. Ketika itu Beliau sedang terbaring di rumah kakak Beliau, dekat Ashram Sunter yang sekarang. Dengan beberapa teman , kami mencoba menengok
Beliau. Namun bu Rani menemui kami dan mengatakan, maaf, Beliau tidak bisa ditemui dan meminta kami berdoa untuk kesembuhan Beliau).
Tak hentinya rasa syukur saya panjatkan kepada Keberadaan dan tempat itu, yang telah menyembuhkan seorang Guru yang sangat saya cintai dari penyakit Leukimia yang dideritanya. Air mata terus menerus keluar, tak bisa dibendung. Flashback memori masa lalu tentang tempat tersebut juga muncul secara bergantian. Suasana begitu mengharukan. Oh, apalagi yang bisa dikatakan pada saat itu ? Mulut menjadi bungkam beribu bahasa. Apa yang dirasakan, kata-kata tak mampu menggambarkannya.
Guru, sembah sujudku padaMu .
Sukmawati
Seperti orang yang rindu kampung halaman. (Sukmawati)
Label:
Sharing of Participants
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar