Energi yang saya rasakan sangat luar biasa. (Dr. Made)

Perjalanan spiritual menuju India dgn focus ke Leh bersama Bapak Anand Krishna sangat menggelitik dan menggerakkan hati saya dengan membulatkan tekad untuk ikut dalam rombongan perjalanan tersebut . Saya adalah pembaca serta pengagum berat Bapak Anand hampir seluruh tulisan beliau dibuku ataupun dimedia-media lain telah saya baca.

Perjalanan spiritual ke Leh sangat penting bagi saya karena pengalaman spiritual Bapak Anand justru titik terpentingnya adalah saat mengalami penyembuhan secara misterius dari penyakit leukemia (kanker darah) di Leh. Awal perjalanan menuju leh terbilang sangat fantastis , semua secara mendadak berubah sangat ekstrim sebagai contoh suhu udara hari pertama tiba di new delhi disambut dengan suhu 39 derajat dengan debu serta panas kering. Pada hari ke2 kami menuju Srinagar Kashmir dengan suhu yang terendah 15 derajat . mendadak bibir pecah, dan rasa dingin yang menusuk sampai ketulang. Sepanjang perjalanan menuju leh pemandanganpun berganti secara cepat mulai dengan hutan-hutan yang hijau dengan sesekali nampak salju di himalaya range semakin mendekati Leh gunung-gunung berubah menjadi bebatuan yang masih ditutupi es serta gletser, perubahan tekanan udara dan kadar oksigen yang berubah mendadak sangat mempengaruhi fisik saya, ketinggian yang cukup membuat nafas sesak saat mencapai ketinggian 3800 m diatas permukaan laut.

Energi yang saya rasakan juga sangat luar biasa, sulit menjelaskan dengan kata-kata apa yang saya pribadi rasakan. Selama perjalanan setiap hari kami menunjungi tempat-tempat suci berbagai agama. Ungkapan bahwa This is the real heaven in the earth, bukanlah suatu isapan jempol biasa. Saya menyadari betul keindahan alam serta bisa mengerti dengan mudah mengapa para orang suci, resi para yogi serta mesias dan nabi melewati jalur ini serta beberapa wahyu suci juga diterima ditempat tersebut. Tempat utama yaitu himis monestry ternuyata mermbutuhkan waktu 2 jam dr pusat kota Leh, diperjalanan hanya terlihat gunung-gunung batu makin menanjak keatas baru terlihat monastry dari arah kejauhan monastry ini cukup unik karena letaknya yang dikelilingi oleh gunung-gunung batu yang masih merupakan Himalaya range, terlihat bekas sungai yg sudah mengering namun disana sini masih terlihat gletser serta puncak pegunungan yg masih diliputi salju. Gemericik air sungai masih terdengar namun tidak nampak air mengalir disungai tersebut, mungkin air tersebut sudah diarahkan ketempat lain serta dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga air, seperti yg kami saksikan sepanjang perjalanan banyak sekali aliran sungai yang diarahkan untuk menggerakkkan turbin listrik.

Sesampai dipelataran parkir kami bergegas menapaki anak tangga namun dada terasa berat karena memang himis terletak diketinggian 3000 m tentunya kadar oksigen juga menurun, begitu saya mencoba untuk berlari nenaiki tangga kepala langsung terasa berat, percakapan antara teman rombongan juga berkurang dengan sendirinya, suasana nampak hening. Deretan rumah para monk atau bikhu yang terletak diluar bangunan utama nampak tersusun rapi dan
bersih, kemudian kami memasuki pintu gerbang utama himis monestry suasana hening sambil sayup-sayup terdengar alunan doa-doa pujian dari para bikhu menggetarkan seluruh badan, pikiran dan jiwa saya, Saya tidak bisa focus dengan kamera saya untuk mengabadikan suasana serta lingkungan monastry, bersama 20 orang teman rombongan kami memasuki temple tempat sumber suara doa-doa itu berasal, didalam tampak kurang lebih 80 org bikhu dewasa maupun remaja sedang melantunkan nyanyian doa-doa yang sama sekali tidak asing ditelinga saya, takjub karena ini pertama kali saya mendengarkan doa-doa tersebut, saya larut dalam ritual doa pagi tersebut, kepala saya tidak dapat terangkat saya hanya bisa sujud dihadapan patung Budha didepan saya, mulut saya terkatup rapat, air mata mulai turun berlinang tanpa ada upaya saya untuk menghentikannya, ada perasaan yang sulit saya jelaskan namun ada kedamaian yang sangat dalam yang saya rasakan, saya tidak sadar posisi saya dimana, energi yang saya rasakan sangat besar terus berputar disekitar tempat itu.

Selesai para monk melakukan ritual doa pagi kami berkumpul bersama Bapak Anand beliau menceritakan sedikit bahwa ditempat inilah (Himis) beliau bertemu dengan seorang Lama di pintu gerbang yang kami lalui, dengan kondisi badan beliau saat itu sangat lemah dengan HB tdk pernah lebih dari 4, perjalanan waktu itu ditempuh beliau 4 jam melalui jalan berbatu yang berbeda sekali dengan saat ini, Beliau mengingatkan seperti yang beliau tulis dalam beberapa buku beliau tentang mukzijat penyembuhan yang terjadi di Leh, Hemis secara terselubung juga telah beliau sebutkan pada buku-buku dengan judul yang lain. Saya kembali teringat kata2 Lama tersebut seperti tertulis pada buku yang Bapak Anand tulis : Ditempat inilah yang paling
tepat kita menerima kematian. Titik balik yang paling penting adalah saat beliau menerima kematian seperti kita menerima kehidupan ini, itu yang beliau katakan.

Beliau juga menunjukkan tempat beliau saat tinggal di Hemis yaitu pada bangunan diluar bangunan utama yang terlihat jelas saat kami akan memasuki gerbang utama. Setelah itu kamipun diberikan ijin untuk berdoa 4 agama ditempat tersebut yang langsung dipimpin oleh Bapak Anand. Luar biasa seluruh rombongan larut dalam doa tersebut, air mata kembali mengalir deras, seakan menjadi saksi dan bisa ikut merasakan kejadian 17 tahun yang lalu
saat Beliau sedang menghadapi maut dan berjuang akan penyakit Leukemia yang siap kapan saja merenggut jiwanya. Diakhir perjalanan pulang saya bisa mengambil kesimpulan bahwa tempat tersebut memang memiliki energi yang luar biasa secara scientific dan berdasarkan pengamatan saya selaku seorang dokter mungkin bisa dijelaskan bahwa ditempat dengan ketinggian 3000m maka kadar oksigen sangat sedikit sehingga darah mengalami perubahan metabolisme untuk menyesuaikan diri dalam mencukupi kebutuhan sel-sel dibadan untuk
hidup, pencapaian kedalaman meditasipun terasa lebih mudah ditempat tersebut karena kita enggan untuk berbicara alhasil duduk diam adalah hal yang paling nyaman dilakukan dengan memperhatikan lingkungan serta pemandangan situasi yang sangat indah maka alam meditasipun akan mudah kita alami.

Namun suatu mukzijat tetaplah suatu mukzijat ada kata-kata seorang suci yang pernah saya baca "The greatest understanding is to know that nothing can be understood, that all mysterious and miraculous. To me, this is the beginning of religion in your life" . Kata-kata ini seakan membuka cakrawala baru pengenalan lebih mendalam akan pengalaman yang dialami bapak Anand Krisnha. Kisah selanjutnya saat kami keluar dari tempat bermeditasi kami tidak lagi
menjumpai para bikhu mereka seakan lenyap serta keheningan yang dominan menguasai tempat itu. Dalam pikiran saya telah terpuaskan bahwa miracle (mukzijat) akan muncul karena ada cinta dalam diri kita, karena kita telah menerima kehidupan selayaknya kita menerima kematian. Pengalaman nyata yang saya alami ini tidak akan pernah saya rasakan bila tidak dilakukan bersama seorang Master, energi beliau serta titik balik kehidupan spiritual beliau
makin saya bisa pahami.. karena beliaulah saya menjadi saksi kejadian yang beliau alami. Terimakasih Bapak Anand Krishna.

- Dr Made Arya Wardhana (dr_madearya@yahoo.co.id)

Tidak ada komentar: